STUDI KASUS: KETERKAITAN ANTARA AGGREGATE DEMAND DENGAN INFLASI

 

Keterkaitan antara Aggregate Demand dengan Inflasi



Studi kasus di Indonesia periode tahun 2004-2014 menunjukkan bahwa inflasi di Indonesia disebabkan oleh kenaikan biaya produksi (inflasi inti), dan peningkatan aggregate demand sebagai dampak dari pertambahan jumlah uang beredar bukan penyebab utama dari tingginya inflasi. Namun, konsumsi masyarakat dan ekspor diketahui memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap inflasi, tetapi dengan keterkaitan yang lemah. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu , antara lain yang dilakukan oleh Djambak (2008) menyimpulkan variabel dominan yang mempengaruhi inflasi di Indonesia adalah berbagai kebijakan Pemerintah yang mendorong kenaikan harga barang dan jasa, antara lain, kenaikan harga bahan bakar minyak, pengurangan subsidi pupuk, kenaikan tarif listrik, kenaikan harga dasar gabah, dan lain-lain. Berbagai kebijakan tersebut menyebabkan kenaikan ongkos produksi, yang mendorong kenaikan harga dan inflasi. Berdasarkan studi ini, inflasi di Indonesia adalah cost push Inflation atau inflasi yang disebabkan kenaikan ongkos produksi.

 

Walaupun demikian, ada dua komponen agregate demand yaitu konsumsi masyarakat (C) dan ekspor (X) positif signifikan mempengaruhi inflasi di Indonesia tetapi dengan keterkaitan yang lemah yaitu hanya 0,29 persen untuk konsumsi masyarakat dan 1,26 persen untuk Investasi swasta. Sebagai contoh, konsumsi masyarakat berpengaruh pada inflasi, terutama pada momen bulan puasa, hari raya idulfitri, natal, dan tahun baru, serta setelah momen ini selesai, harga akan kembali normal. Investasi swasta mendorong inflasi permintaan bahan-bahan bangunan, seperti permintaan terhadap semen dan besi behel, dan bahan bangunan lainnya, yang biasanya terjadi pada akhir tahun anggaran, yaitu bulan November dan bulan Desember, setelah itu harga akan kembali normal.


sumber: Keterkaitan antara aggregate demand dengan inflasi


Posting Komentar

0 Komentar